Minggu, 04 Juli 2010

KEMELUT POLITIK DI MYANMAR TAHUN 1988

Keadaan Myanmar pada masa pemerintahan rampasan oleh Ne Win dari U nu.

Demokrasi tidak berlangsung lama di Myanmar, hanya 14 tahun, mulai selepas merdeka 4 Januari 1948 hingga 1962 saat Ne Win menggulingkan pemerintahan sipil PM U Nu dan kemudian membentuk junta militer. Sejak itu nama harum Myanmar yang ditorehkan Aung San dan U Thant-sempat menjabat Sekjen PBB–praktis sirna.

Ne Win bersama PM U Maung Maung Kha menjalankan politik tangan besi, otoriter. Junta militer adalah sumber kebenaran. Meski demikian, ekonomi negara tidak kunjung membaik, malah makin terpuruk. Roda ekonomi digerakkan oleh pasar gelap. Jenderal Ne Win sama sekali tidak memberi celah bagi partisipasi politik warga sipil.

Akibatnya, pada 1988 rakyat resah dan turun ke jalan. Tak kurang dari 1.000 demonstran tewas akibat bentrok dengan militer. Panggung politik gonjang-ganjing. Junta militer pecah, Aksi demo yang meluas membuat Jenderal Saw Maung, salah satu kepercayaan Ne win, melakukan langkah politik sepihak. Dia melengserkan Ne Win sembari terus memperkuat kekuasannya dengan membentuk State Law and Order Restoration Council (SLORC) alias junta militer.

SLORC adalah badan yang pembentukan dan sistemnya serupa dengan Komando Pemulihan Keamanan dan Ketertiban (Kopkamtib) rezim Soeharto yang dibentuk 10 Oktober 1965. Demi alasan kestabilan politik, SLORC mengeluarkan rancangan hukuman mati bagi para demonstran. Lewat aturan yang disahkan legislatif pada 31 Mei 1989, Saw tampaknya ingin bereksperimen dengan demokrasi, yang kemudian terbukti hanya sebuah ‘kosmetika politik.

Itu terbukti ketika partai pemerintah dilibas habis oleh Liga Nasional untuk Demokrasi (NLD) pimpinan Aung San Suu Kyi yang merebut 392 kursi dari 489 kursi parlemen, pimpinan junta itu langsung berubah pikiran. Kemenangan NLD dianulir sehingga membawa implikasi politik yang tidak kecil kepada junta hingga hari ini.

B . Berlangsungnya pemberontakan Rangoon Spring di Myanmar 1988

Setelah kembalinya Aung san suu kyi putri dari Aung san mengantarkan berobat ibunya di luar negeri pada bulan Maret 1988, protes – protes yang dilancarkan para pelajar di Myanmar. Protes ditujukan terhadap Rezim militer meletus di Rangoon di bulan Maret dan juni. Protes dikarenakan keputusan jendral Ne win untuk menerbitkan kembali catatan bank pecahan yang dapat dibagi dengan angka Sembilan ( Win ) yang terobsesi bahwa angka Sembilan merupakan angka yang menguntungkan, yang menurut rakyat Myanmar menghancurkan nilai tabungan rakyat tanpa pemberitahuan terlebih dahulu.

Rezim ini member respon atas protes – protes itu dengan tekanan tetapi mengendurkan kekuasaan saat Ne win turun dari jabatan BSPP ( badan partai sosialis birma ). Setelah itu Sein Lwin, kepala polisi anti huru hara mengambil alih pemerintahan dan dengan segera menarik darurat militer.

Pergerakan untuk demokrasi mencapai puncaknya pada musim panas atau Rangoon spring, dalam sebuah pemberontakan masal pada tanggal 8 Agustus 1988 yang menyebar dari Rangoon ke seluruh penjuru negri. Pemberontakan tersebut dikalahkan manakala militer memberondongkan ke arah demonstran , membunuh beberapa orang. Penumpahan darah berakhir pada tanggal 12 Agustus yang dimana diberitahukan bahwa Shen Win “ Penjagal dari Birma mengundurkan diri.

Sementara itu Aung san suu kyi, sebagai puteri pahlawan kemerdekaan Myanmar yang paling terkenal, memasuki kancah gerakan demokrasi . Pada tanggal 26 Agustus ia berpidato di depan kumpulan masa Myanmar di depan pagoda shwedagon di Rangoon yang mengusulkan berdirinya komite konsultatif rakyat. Untuk membantu rakyat Myanmar keluar dari krisis.

Namun pada tanggal 18 September karena sebuah perjuangan internal yang berdarah dalam tubuh pemerintahan , maka diumumkan bahwa ada sebuah kudeta militer. Hukum Negara dan Dewan restorasi ketertiban ( Orders Restoration Council :SLORC ) sebuah junta yang beranggotakan dari 21 pejabat militer senior pimpinan Shaw Maung yang kini memerintah Myanmar, yang kemudian diketahui bahwa Shaw Maung telah diperintah untuk mengadakan kudeta oleh Ne Win.

Setelah itu SLORC mengklaim bahwa akan ada pengambil alihan kekuasaan setelah pemilu yang bebas dan adil, tetapi perkumpulan politik yang beranggotakan lebih dari empat orang malah di larang dan kekuatan militer dikerahkan untuk menekan para demonstran.

Oposisi diorganisir secara resmi menjadi liga nasional League of Democrazy NLD pada tanggal 24 september dengan Suu kyi sebgai sekertaris Jendral,. Ia mendukung protes non kekerasan mendesak PBB untuk campur tangan dan menuduh Ne Win telah mengendalikan SLORC dari belakang.

C . Dampak dari pemberontakan Rangoon Spring.

Setelah berakhirnya Rangoon spring,bulan Juni 1989 secara resmi nama Negara Birma berubah menjadi Myanmar dan nama ibukota Negara itupun berganti juga dari Rangoon menjadi Yangoon. Setelah itu Su Kyi dikenakan tahanan rumah karena dianggap membahayakan Negara, di bawah hukum rejim militer, ia ditahan tanpa dakwaan.

Sementara itu SLORC mengajukan kebijakan empat bagian untuk mengontrol etnik – etnik minoritas di Negara Myanmar . Propinsi –propinsi, suku – suku tersebut diumumkan dilindungi oleh militer yang mana populasi etnik itu direlokasi secara paksa untuk memagari daerah bergedung dan ditekan dengan brutal

Dalam usahanya untuk menyangga perekonomian Myanmar yang sedang ambruk akibat peristiwa Rangoon spring, ratusan atau bahkan ribuan warga dipaksa menjadi budak baik dalam proyek – proyek kontruksi ataupun untuk militer. Praktik tersebut dengan digambarkan oleh rezim itu sebagai kontribusi rakyat

Hutan – hutan Negara dan sumber alam dijarah dan produksi Narkoba meningkat dan pengolahan opium dilegalkan . dan disaat yang sama angkatan bersenjata juga dilipatgandakan dan pengeluaran belanja dalam pasukan angkatan bersenjata melonjak di negeri Myanmar.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar