Masa Kekuasaan Marcos
Ferdinand Edralin Marcos lahir di Sarrat, Ilocos Norte, 11 September 1917. Dia adalah lulusan Universitas Filipina. Berkat jasanya pada Perang Dunia II, dia pernah memperoleh penghargaan. Marcos yang merupakan Presiden ke sepuluh, berkuasa di Filipina selama kurang lebih 21 tahun. Marcos merupakan presiden pertama yang terpilih selama dua periode. Marcos mendirikan rezim otoriter pada tahun 1972, dimana dia bisa terus berkuasa.
Pada masa kepemimpinannya, banyak terjadi pelanggaran HAM, korupsi besar-besaran, dan berbagai masalah kesehatan. Hal ini menimbulkan penderitaan pada rakyat Filipina, sehingga membuat banyak tokoh yang muncul untuk menentang kepemimpinannya. Salah satunya adalah Benigno Aquino Jr, yang kemudian dibuang dan diasingkan ke Boston, Amerika Serikat. Pada 1969, dimana Marcos menjabat kembali sebagai Presiden untuk kedua kalinya, terjadi aksi demonstrasi-demonstrasi yang mengakibatkan popularitas Marcos menurun. Gejolak politik yang terjadi semakin diperparah dengan meningkatnya kasus kejahatan, penyakit, dan bencana alam. Parahnya, Marcos malah menggunakan kekerasan untuk menangani beberapa hal, misalkan demonstrasi yang terjadi.
Pada tahun 1973, diberlakukan suatu undang-undang yang disebut sebagai undang-undang Darurat Perang yang isinya mencakup mengatasi hukum sipil, pembatasan-pembatasan dalam kebebasan bersuara, dan kebebasan pers, dimana tujuannya meredam perlawanan pada ide, niat dan perintah Marcos. UU ini diterapkan untuk mengabadikan kekuasaan Marcos. Hal ini menimbulkan protes dari berbagai kalangan. Kalangan gereja meragukan legalitas dari kebijakan-kebijakan UU Darurat Perang, sedangkan kaum-kaum etnik dan organisasi-organisasi Islam menentang dalam bentuk pemberontakan. Akan tetapi semua itu seakan hanyalah angin lalu bagi Marcos, apalagi mahkamah sendiri tampak seperti sudah menjadi milik Marcos, sehingga selalu menguntungkan Marcos. Seiring dengan perkembangannya, UU ini tidak membawa hasil yang signifikan. Akan tetapi Marcos justru menunjukkan kembali kontroversi yang lain, yaitu ingin menjadikan Filipina daerah pariwisata, dengan ditandai rencana dibangunnya empat belas hotel baru dan convention center yang pastinya membutuhkan dana besar. Hal ini sangat riskan mengingat keadaan ekonomi Filipina yang buruk pada masa itu. Defisit Negara menunjukkan lebih besar, inflasi melonjak, PHK besar-besaran, dan meningkatnya pengangguran. Pada 1978, Marcos menjabat lagi menjadi Presiden, dengan cara yang tidak seharusnya, seperti mengancam agar mau mendukung Marcos.
B. Kehancuran Rezim Marcos
Pada tahun 1983, Benigno Aquino Jr ( Ninoy ), mantan senator Filipina pulang dari pengasingannya dan menuju ke Filipina. Aquino diasingkan karena merupakan salah satu penentang Marcos. Aquino pulang untuk membujuk Marcos agar mau meletakkan kekuasaannya, akan tetapi dia tewas tertembak dalam peristiwa pembunuhannya ketika baru tiba di Bandara Manila. Peristiwa ini merupakan akar dari terjadinya Revolusi EDSA ( Epifanio De Los Santos Avenue ) pada tahun 1986 di jalan sebuah Metro Manila, yang merupakan tempat terjadinya revolusi. EDSA sendiri adalah sebuah demonstrasi besar-besaran tanpa kekerasan yang dilakukan oleh jutaan rakyat Filipina yang telah kehilangan kepercayaan pada Marcos. Kondisi kesehatan Marcos yang buruk semakin membuat pemerintahan Marcos melemah. Ditambah dengan penarikan dukungan dari dua tokoh penting yaitu, Menteri Pertahanan Juan Ponce Enrile dan Perdana Menteri Fidel Ramos.
Tewasnya Ninoy, menjadikan sang Istri, Corrazon ( Corry ) Aquino menjadi figure penting penentang Ramos. Demi mengusut kematian suaminya, dia memimpin massa untuk turun ke jalan. Perjuangan selama 22 – 25 Februari 1986 itu berhasil menggulingkan Marcos. Corry sukses menghimpun kekuatan dari berbagai kalangan, mulai dari pengusaha, politisi, hingga para imam gereja. Bahkan pihak militer pun berhasil dirangkul dan berbalik melawan Marcos, dengan tidak mau menuruti perintahnya. Hati pihak militer luluh saat dikirimi bunga oleh kelompok Corry. Pada 23 November 1985 Marcos mengadakan pemilu setahun lebih cepat, dimana Corry yang tidak memiliki kemampuan di bidang politik, maju menjadi saingan Marcos. Dengan dibantu oleh NAMFAREL ( National Movement for Free Elections ) dan pihak Gereja Katolik, Corry dapat memenangkan pemilu itu dan kemudian menjadi Presiden Filipina. Tugas Berat menanti Corry, untuk memulihkan keadaan perekonomian, hak-hak warga Negara, serta keadilan sosial di Filipina.
Militer yang sebelumnya diandalkan oleh Marcos, mengalami perpecahan antara pendukung rezim, dengan para pembela Negara. Tindakan Marcos paska pemilu adalah menangkapi para anggota gerakan pembaharu. Hal ini menimbulkan apa yang kemudian dikenal dengan people power, yaitu pagar manusia yang melindungi militer yang membangkang dari ancaman pasukan-pasukan tentara pendukung rezim. Hal inilah yang kemudian menyebabkan jatuhnya Marcos. Marcos kemudian melarikan diri ke Hawaii bersama istrinya, disana dia dituduh menggelapkan uang dan dituduh bersalah. Pada 1989 Marcos meninggal karena gagal jantung.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar