Historiografi merupakan usaha penulisan sejarah untuk merekonstruksi masa lampau. Dengan historiografi, dapat dilihat suatu perkembangan peradaban manusia, termasuk kreativitas manusia untuk mengembangkan peradaban. Dalam perkembangannya, historiografi memuat teori dan metodologi sejarah. Salah satu tradisi historiografi yang khas adalah historiografi Eropa. Historiografi Eropa diawali dari historiografi kuno. Historiografi Eropa kuno jauh berbeda dari historiografi tradisional negara-negara lain karena historiografi Eropa kuno tidak mengutamakan mitos dan theogoni, tetapi lebih mengutamakan rasionalitas dan demokrasi. Selain itu, Historiografi Eropa Kuno berorientasi pada perkembangan. Patriotisme mengakar kuat pada hisoriografi Eropa kuno, sehingga tulisannya pun banyak mengangkat tentang perang dan kejayaan suatu imperium. Penyajian historiografi Eropa Kuno memiliki banyak variasi bentuk. Karya Herodotus ditulis dalam bentuk prosa (logographoi). Bentuk ini merupakan pembaharuan dari bentuk puisi atau syair. Sedangkan karya Thucydides, Polybius, Tacitus, dan Livius berbentuk dokumen. Penyajian dalam bentuk dokumen ini dipengaruhi oleh gaya dari penulis sendiri yang sudah mulai menggunakan sejarah kritis dan metode sejarah dengan menghilangkan mitos dan theogoni.
Historiografi adalah studi mengenai sejarah dan metodologi dari disiplin sejarah. Karena itu, ia menggunakan semiotika untuk mempertimbangkan bagaimana pengetahuan masa lalu diperoleh dan ditransmisikan. Secara formal, historiografi memeriksa penulisan sejarah, penggunaan metode sejarah, menggambar atas penulisnya, sumber, interpretasi, gaya, bias, dan pembaca; apalagi, historiografi juga menunjukkan kumpulan karya sejarah. Sarjana membahas historiografi topikal, yaitu "historiografi Katolik," yang "historiografi awal Islam," yang "historiografi cina," dan sebagainya, dan pendekatan dan genre termasuk sejarah lisan Dan sejarah sosial. Dimulai pada abad kesembilan belas, pada pendakian sejarah akademis, sebuah kumpulan literatur historiografi dikembangkan, termasuk What is History?
Eropa memiliki penyaji historiografi yang terkenal, mulai dari Herodotus, Thucydides, Polybius, Titus, Livius, sampai Tacitus. Di antara sejarahwan-sejarahwan tersebut, terdapat seorang sejarahwan dari Romawi yang terkenal, yaitu Tacitus. Tacitus adalah sejarahwan yang memusatkan perhatiannya pada hal-hal yang ugly dan tidak menarik.
Tacitus merupakan sejarawan Romawi yang berusaha untuk mengemukakan “sebab moral” keruntuhan Romawi. Ia berusaha untuk menemukan akar persoalan-persoalan politik yang terjadi di tahun-tahun awal kerajaan Roma. Selain itu, Tacitus juga menulis tentang bangsa Jerman dan menjadi satu-satunya literatur tentang Jerman. Secara detail ia menceritakan sebuah kerajaan yang tengah bergerak menghancurkan dirinya sendiri. Banyak para sejawaran yang berpendapat bahwa karya-karya Tacitus memiliki kualitas sastra yang cukup tinggi. Banyak pula orang yang mengatakan bahwa Tacitus merupakan “suara otentik Roma kuno dan pelukis besar Jaman Kuno”. Setiap halaman dari tulisannya menunjukkan kemampuan retorik. Tacitus memakai orasi langsung dan orasi buatan untuk melukiskan karakter, meringkaskan pemikiran kelompok-kelompok, menyampaikan rumor masyarakat, memperkuat penegasan dan menegaskan posisi moral-politik.
Karya Tacitus yang terkenal diantaranya adalah Agricola, Germania, Dialogus De Oratoribus, Historiae (Histories), dan Annales (Annals). Agricola ditulis sekitar 98 AD. Tulisan ini menceritakan kehidupan Gnaeus Julius Agricola, ayah mertuanya, Gubernur Inggris. Tulisan tersebut berisi uraian rinci mengenai kelahiran, pendidikan, perjalanan karier politik, sejarah sejumlah operasi militer Romawi, capaian administratif Agricola, akhir karier Agricola, sampai kematiannya. Dengan kata lain tulisan ini berpusat pada kehidupan Agricola. Meskipun demikian, dalam tulisan ini juga ditemukan uraian mengenai sejarah, etnografi, dan geografi Inggris. Tacitus sepertinya mengikuti preseden yang juga digunakan Heredotus, yaitu mengulas wilayah dalam bab inti. Dapat dikatakan bahwa Agricola adalah gabungan sejarah dan biografi.
Germania merupakan etnografi studi di Eropa Tengah. Tacitus membandingkan kemunduran dari Roma dengan kekuatan Jerman. Ia mengontraskan kebaikan orang-orang Jerman yang terkenal barbar dengan keburukan Roma pada waktu itu. Menurut beberapa pengamat, Germania ditulis untuk menunjukkan bahwa Jerman adalah lawan Roma yang paling tangguh. Tacitus menulis karya ini sebagai wujud kekecewaannya terhadap perilaku orang-orang negrinya pada waktu itu dan ketertarikannya pada orang-orang Jerman.
Tulisannya yang selanjutnya adalah Dialogus De Oratoribus, dialog pada seni retorika. Isi tulisan ini adalah debat fiktif tentang kemerosotan seni berbicara. Tulisan ini terdiri dari tiga rangkaian perdebatan. Pertama, perdebatan Aper dan Maternus mengenai manfaat seni berbicara dan puisi. Kedua, perdebatan dua orang tersebut mengenai seni berbicara pada masa itu dan seni berbicara para orator “kono”. Ketiga, Messala dan Maternus memberi penjelasan mengenai kemerosotan seni berbicara. Dialogus bukan hanya karya analisis sastrawi tetapi juga upaya untuk mengamati perubahan politik.
Histories, dan Annals, jika bisa diselamatkan semuanya, terdiri dari tiga puluh jilid buku. Meskipun Tacitus menulis Histories sebelum Annals, kedua tulisan tersebut membentuk sebuah cerita dari kematian Augustus sampai kematian Domitian. Dalam kedua tulisan tersebut, Tacitus memusatkan perhatiannya pada tindakan dan pamrih individu.
Dalam jilid I Histories, Tacitus menulis pemerintahan Galba, pengangkatan penggantinya Piso Licinianus, sampai revolusi yang menahtakan Salvius Otho dan mengorbankan Galba dan Piso. Kemudian ulasan mengenai pemberontakan pasukan angkatan darat Roma di Jerman, tempat Vitellius ditahbiskan menjadi raja, pergerakan pasukan menuju Italia, dan persiapan Otho menghadang mereka. Jilid II mengulas pengincar kekuasaan lain, Vespasia. Ketiga kubu tersebut saling berebut kekuasaan dan berujung pada kekalahan Otho, yang kemudian bunuh diri. Selanjutnya Tacitus membicarakan tahta Vitellius yang terancam oleh Vespasia. Jilid III menceritakan pertempuran kubu Vitellius dan Vespasia yang dimenangkan Vespasia. Jilid V yang masih tersisa menceritakan pemberontakan Claudius Civils di Gauldan Jerman serta perang Yahudi oleh Vespasian dan putranya, Titus.
Annals menguraikan masa sepeninggal Augustus sampai sepeninggal Nero. Kematian Augustus dan pemerintahan Tiberius diuraikan dalam enam jilid, hanya saja jilid V tidak dapat ditemukan secara utuh. Gaius Caligula dan Claudius dibahas dalam enam jilid, tetapi hanya jilid terakhir dan sebagian isi yang mengupas pemerintahan Claudius yang terselamatkan. Jilid yang menceritakan pemerintahan Nero dapat diselamatkan tiga setengah jilid, yang berisi kisah kenaikannya menjadi raja sampai pertengahan.
Dengan melihat karya-karyanya tersebut banyak pengamat setuju bahwa karya-karya Tacitus memiliki kualitas sastra yang tinggi. Kualitas karyanya tersebut menarik para dramawan Ben Johnson atau Jean Racine, juga bagi penulis Robert Graves. Tacitus menjadi nama yang terkenal pada tahun 1976, seiring dengan pengadaptasian tulisan-tulisan Grave ke dalam Claudius seri 1 di televisi BBC. Namun, para ahli memperdebatkan kecermatan penulisan dan kelayakan karya-karya Tacitus sebagai karya sejarah. Turtelian mengatakan bahwa Tacitus adalah pembual kelas satu saat berbohong. Oleh karena itu para ahli mempermasalahkan apakah karya Tacitus layak disebut sebagai karya sejarah atau tidak.
CIRI-CIRI HISTORIOGRAFI EROPA KUNO
1. Visi
Visi historiografi Eropa Kuno ini lebih pada rasionalistis dan demokratis. Memang tidak dapat dipungkiri bahwa orang-orang Yunani dan romawi menganut banyak dewa, akan tetapi mereka tidak pernah berorientasi pada dewa sentries, walaupun demikian mereka masih memegang mitos dan theogoni. Dan yang utama pada masa ini dalam penulisannya ditujukan pada jiwa patriotik.
2. Isi
Isi dari tulisan yang dihasilkan pada masa ini adalah yang berisikan kepahlawanan. Artinya tulisan diorientasikan pada perjuangan karena yang ditulis masih sekitaran perang dan juga kekuatan dari sebuah imperium besar. Selain itu tidak dapat dipungkiri bahwa para penulis cenderung berat sebelah. Hal ini dikarenakan dalam posisinya para penulis berada dalam pihak yang menang ketika suatu perang tersebut berlangsung, baik mereka ikut langsung maupun sebagai pengamat saja.
3. Penyajian
Penyajian historiografi Eropa kuno tidak hanya dalam satu bentuk penyajian saja, akan tetapi bervariasi. Dalam karya Herodotus ditulis dalam bentuk prosa (logographoi). Bentuk ini merupakan pembaharuan dari bentuk puisi atau syair. Sedangkan pada karya Thucydides, Polybius, Tacitus maupun Livius karyanya berbentuk dalam dokumen. Sebagai contohnya adalah perang Peloponesos karya Thucydides. Penyajian dalam bentuk dokumen ini dipengaruhi oleh gaya dari penulis sendiri yang sudah mulai menggunakan sejarah kritis dan metode sejarah dengan menghilangkan mitos dan theogoni.
KELEBIHAN DAN KELEMAHAN HISTORIOGRAFI EROPA KUNO
Kelebihan dari historiografi Eropa kuno diantaranya adalah mampu menggugah rasa nasionalisme, hal ini disebabkan isi dari historiografi Eropa kuno lebih menyoroti tentang perang yang menunjukkan patriotisme, baik yang dirasakan oleh penulis sendiri maupun hanya dengan cara mengumpulkan data dan bertanya-tanya kepada saksi dan pelaku.
Walupun demikian historiografi Eropa kuno juga memiliki beberapa kekurangan. Kekurangan yang ada diantaranya nilai berat sebelah itu tetap ada walaupun sudah diusahakan seobjektif mungkin. Hal ini bisa dilihat dalam karya Thucydides, dia adalah seorang jenderal perang Athena. Dalam perang Peloponesia ini Athena mendapatkan kemenangan, sehingga mau tidak mau rasa berat sebelah itu akan muncul. Begitu pula dalam karya Herodotus, dia sangat mengagung-agungkan kebudayaan Yunani dan menganggap kebudayaan Parsi (Timur) sebagai kebudayaan yang terbelakang. Selain itu karya Herodotus walaupun menggunakan sumber dari kedua belah pihak, dalam tulisannya masih saja terdapat unsur supernatural, sehingga membuat nilai dari karyanya ini tidak sempurna. Sedangkan dalam karya Titus dia menggunakan daya imajinatif, adanya pengorbanan kebenaran sejarah demi sebuah retorika.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar